BAHASA INGGRIS DAN KONTROVERSI METODE
BELAJARNYA
Praksis
pembelajaran selama ini seringkali hanya dianggap sebagai suatu proses satu
arah saja, yaitu cara mengajar yang baik. Padahal dalam praktiknya, proses
pembelajaran adalah interaksi antara dua pihak (guru-murid) yang masing-masing
menjalankan perannya sebagai pembelajar (guru yang mengajar) dan pebelajar
(murid yang belajar). Sayangnya, elemen murid sebagai pebelajar hampir tidak
pernah ditampilkan sehingga kurang mendapat perhatian dalam proses
pembelajaran. Praksis pembelajaran cenderung menganggap murid sebagai objek
pembelajaran yang perannya dibatasi hanya sebagai penerima. Padahal, justru
muridlah yang seharusnya mendapat perhatian utama. Pada kenyataannya, seorang
guru akan dianggap berhasil apabila murid-muridnya dapat menyerap materi yang
diajarkan. Sebaliknya, secanggih dan sekreatif apapun seorang guru dalam
mengajar, apabila murid-muridnya tidak dapat mengerti tetap saja dianggap bahwa
guru tersebut telah gagal.
Orang-orang yang berkecimpung di
bidang pembelajaran bahasa asing sering mengatakan bahwa pebelajar/murid-murid
yang benar-benar ingin belajar akan tetap berhasil dalam kondisi pembelajaran
apapun. Para guru pun juga cenderung mengiakan
bahwa murid-murid tertentu yang “termotivasi” biasanya lebih baik daripada
teman-temannya yang lain: mereka tetap berhasil dalam pembelajarannya meskipun
situasi dan kondisi pembelajaran kurang mendukung, mereka tetap berhasil
meskipun gurunya menggunakan metode pembelajaran yang dianggap para pakar
kurang memuaskan.
Motivasi
adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk
mencapai sesuatu. Pencapaian terhadap suatu sasaran dapat dibagi dalam dua
kategori, yaitu sasaran jangka panjang dan jangka pendek. Sasaran jangka
panjang dapat saja berupa harapan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik
atau untuk mencapai karir yang lebih cemerlang atau bahkan harapan untuk pergi
ke luar negeri sebagai bagian dari tugas belajar atau penugasan dinas rutin. Sedangkan
sasaran jangka pendek dapat berupa keinginan untuk lulus ujian atau tes
tertentu yang mensyaratkan kompetensi bahasa Inggris. Bayangkan jika seseorang
sama sekali tidak mempunyai sasaran apa-apa (sehingga tidak ada dorongan yang
nyata sama sekali), dapatkah dia belajar sesuatu?
Motivasi
belajar dapat dibagi dalam dua kategori, yakni motivasi ekstrinsik, yang berhubungan
dengan faktor-faktor di luar kelas, dan motivasi intrinsik, yang berkaitan
dengan apa yang terjadi di dalam kelas. Dalam konteks pembelajaran bahasa
Inggris, motivasi ekstrinsik dapat berbentuk ketertarikan terhadap budaya bangsa
yang menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi, misalnya ketertarikan
terhadap budaya Barat atau Amerika (Alangkah nikmatnya jika kita dapat menonton
film-film Hollywood tanpa harus terpecah
konsentrasi untuk membaca teks terjemahannya). (Khusus bagi anggota TNI: Dalam era globalisasi dewasa ini, di mana
perjumpaan dengan orang-orang asing menjadi semakin sering, kemampuan personel
TNI untuk berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa internasional (baca:
bahasa Inggris) menjadi semakin penting, baik dalam konteks intelijen
pertahanan maupun dalam konteks negosiasi).
Keyakinan
bahwa penguasaan bahasa Inggris dapat membantu seseorang memperoleh pekerjaan,
jabatan, atau status yang lebih baik juga dapat dikategorikan dalam motivasi
ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik lain yang juga dapat mempengaruhi keberhasilan
seseorang untuk belajar bahasa asing (baca: bahasa Inggris) adalah pengalaman
belajar bahasa Inggris. Jika dulu (misalnya waktu masih sekolah) pernah
memperoleh hasil yang memuaskan saat belajar bahasa Inggris, maka sekarang pun
mereka akan merasa mudah untuk mencapainya. Sebaliknya, jika dulu merasa gagal
dalam belajar, mereka pun cenderung menganggap hal yang sama akan terjadi pada
diri mereka sekarang.
Meskipun
dapat diasumsikan bahwa pebelajar dewasa pada umumnya termotivasi secara ekstrinsik
dalam derajat tertentu, keberhasilan belajar bahasa Inggris juga ditentukan
oleh faktor-faktor intrinsik di dalam kelas, misalnya kondisi fisik kelas,
metode pembelajaran, guru, dan derajat keberhasilan. Situasi kelas yang kurang
penerangan dan terlalu banyak murid cenderung mengurangi motivasi belajar
murid. Kondisi papan tulis juga dapat mengurangi motivasi belajar, khususnya
apabila tulisan di papan tulis kurang jelas atau kabur sehingga sulit dibaca
oleh murid-murid yang ada di belakang atau di samping. Meskipun
kekurangan-kekurangan tersebut sebenarnya adalah wewenang penanggung jawab atau
pemimpin sekolah, guru-guru juga dapat mengakalinya dengan membuat suasana
kelas lebih menyenangkan, misalnya dengan menempel poster-poster, pekerjaan
pebelajar, dan semacamnya di dinding kelas.
Metode
pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga mempengaruhi motivasi belajar
murid. Proses pembelajaran yang membosankan (banyak pebelajar yang mengeluhkan
hal ini) cenderung menurunkan motivasi belajar. Faktor metode pembelajaran ini
berkaitan sangat erat dengan individu yang menjalankannya, yaitu sang guru.
Setiap pebelajar cenderung berharap bahwa guru mereka mampu membuat proses
pembelajaran yang menyenangkan, penjelasannya mudah dimengerti, sabar, dan
bersikap adil atau tidak pilih kasih.
Selain
motivasi belajar, faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa
Inggris adalah karakteristik pebelajar sendiri. Sebagai individu, setiap
pebelajar mempunyai metode belajar sendiri-sendiri yang sayangnya seringkali
diabaikan oleh para guru bahasa Inggris. Karakteristik pebelajar dapat
digolongkan dalam dua kategori: mereka yang menyukai dan cepat menguasai
hafalan dan mereka yang menyukai belajar tata bahasa.
Tak
bisa dibantah bahwa sebagian besar pebelajar bahasa Inggris cenderung
menganggap bahwa belajar bahasa berkaitan erat dengan hafalan, baik menghafal
arti suatu kata atau ujaran maupun menirukan kalimat-kalimat yang sering
digunakan dalam percakapan. Konsep ini bertolak dari filosofi behaviorisme atau
teori perilaku manusia. Filosofi behaviorisme menyatakan bahwa belajar bahasa
baru adalah masalah pembentukan suatu kebiasaan yang baru, yaitu berkomunikasi
dengan bahasa target. Bagaimana caranya? Dengan berlatih. Latihan mendorong
kebiasaan: mulai dari lingkup yang kecil seperti menghafal kata atau kelompok
kata (frase) sampai lingkup yang lebih luas seperti frase-frase panjang atau
bahkan kalimat.
Hafalan
juga tidak hanya terfokus bagaimana cara mengucapkan suatu kata atau kalimat,
tetapi juga meliputi pengenalan terhadap ujaran yang diucapkan oleh lawan
bicara, baik penutur asli bahasa Inggris maupun bukan. Konsep pembiasaan ini
mendorong pebelajar untuk merespon secara spontan dan otomatis suatu
pembicaraan dengan sama persis dengan cara para penutur bahasa Inggris.
Banyak
juga pebelajar yang menyukai cara belajar dengan menganalisis
peraturan-peraturan yang mendasari penggunaan bahasa Inggris. Dengan cara ini,
mereka merasa dapat lebih cepat menguasai bahasa Inggris karena memahami konsep
dasar penggunaannya. Cara belajar ini berdasar pada filosofi belajar
kognitifisme atau rasionalisme. Teori kognitif menyatakan bahwa pemahaman adalah
faktor yang sangat penting saat belajar. Pemahaman terhadap peraturan tata
bahasa Inggris dapat mendorong pebelajar untuk mengucapkan berbagai ujaran
dalam bahasa Inggris bahkan tanpa harus pernah mendengar atau membacanya
terlebih dahulu.
Dewasa
ini, para pakar pembelajaran bahasa Inggris juga menganjurkan pebelajar agar
sesering mungkin berinteraksi dengan para penutur bahasa Inggris. Melalui
interaksi tersebut, pebelajar dapat lebih mengetahui kelemahan dan kekuatan
keterampilan berbahasa Inggrisnya dengan cara mengamati secara langsung respon
dari penutur bahasa Inggris tersebut. Interaksi langsung dengan penutur bahasa
Inggris memungkinkan pebelajar mengetahui apakah dia dapat memahami ujaran mereka
dan sebaliknya apakah ujaran bahasa Inggrisnya dapat dimengerti atau tidak oleh
mereka. Pada prinsipnya, semakin sering pebelajar berinteraksi dengan komunitas
penutur bahasa Inggris akan semakin banyak yang dipelajarinya.
Metode
belajar bahasa Inggris yang efektif lainnya adalah dengan latihan. Pepatah
mengatakan bahwa “practice makes perfect”,
artinya bahwa latihan dapat menjadikan sesuatu lebih baik atau bahkan sempurna.
Dalam proses belajar, pengetahuan yang didapat pebelajar disimpan oleh sistem
memori di dalam otak. Semakin sering pengetahuan tersebut digunakan akan
semakin mudah pula pengetahuan tersebut diambil dari sistem memori otak. Berlatih
menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi tidak harus selalu dengan
penutur bahasa Inggris, meskipun jika memungkinkan akan lebih baik. Artinya,
jika tidak ada penutur bahasa Inggris yang bisa diajak/dibujuk untuk latihan
berbahasa Inggris, pebelajar tetap bisa berlatih dengan sesama teman, sebagaimana
pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”.
Belajar
bahasa Inggris juga dapat menggunakan media alternatif seperti lagu, film,
koran, majalah, atau bahkan novel dan komik yang berbahasa Inggris. Salah satu
keunggulan media alternatif tersebut di atas adalah bahwa pebelajar tidak
merasa sedang belajar, tetapi merasa sedang menikmati hobi atau memenuhi
kebutuhan rekreasi karena kegiatannya cenderung menyenangkan hati.
Kegiatan
belajar lain yang sangat berguna namun sering terlupakan adalah korespondensi.
Mengirim surat kepada teman atau siapa saja dengan penutur bahasa Inggris dapat
meningkatkan keterampilan menulis dan membaca teks bahasa Inggris. Jika
pebelajar merasa kesulitan untuk memperoleh majalah atau koran berbahasa
Inggris yang biasanya menyediakan rubrik korespondensi, saat ini internet dapat
menjadi alternatif yang paling memungkinkan karena kemudahan aksesnya baik
melalui program facebook maupun twitter.
Kesimpulannya,
tidak ada alasan untuk tidak belajar: dimana ada kemauan, pasti ada jalan.
Selamat belajar…!